Mengapa Doa Harus Jadi Prioritas Utama
Kekuatan di Luar Nalar yaitu Dimensi Transendental Doa
Setiap orang tua mendambakan yang terbaik untuk anak mereka, selalu berkeinginan memiliki anak dengan kecerdasan yang tajam, hati yang mulia, dan masa depan yang penuh kesuksesan. Sering kali, upaya difokuskan pada nutrisi fisik, pendidikan formal, dan stimulasi lingkungan. Namun, ada satu kekuatan yang sering dianggap remeh, bahkan oleh mereka yang paling berpendidikan sekalipun, yaitu doa orang tua.
Dalam Islam, doa
memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ia adalah inti ibadah dan
jembatan langsung antara hamba dengan Penciptanya. Kedudukan doa orang tua
(khususnya ibu dan ayah) adalah salah satu doa yang paling mustajab
(dikabulkan) dan tidak ada hijab yang menghalanginya.
Allah SWT
berfirman mengenai pentingnya
memohon kebaikan, tidak hanya bagi diri sendiri
tetapi juga bagi keturunan:
٧٤ إِمَامًا لِ ˚لمُتَّقِينَ وَا ˚جعَ
˚لنَا أَ ˚عيُ
„ن قُرَّةَ وَذُ ِ'ريَّاتِنَا أَ ˚زوَاجِنَا مِ ˚ن لَنَا هَ ˚ب رَبَّنَا يَقُولُونَ وَالَّذِينَ
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada
kami pasangan kami dan
keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami),
dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-
orang yang bertakwa.” QS Al-Furqan ayat 74
Ayat
ini menegaskan bahwa keinginan untuk memiliki keturunan yang saleh dan menjadi
penyejuk mata adalah bagian dari doa kaum beriman. Ini menjadikan doa sebagai
‘Kekuatan Supernatural’ yang sesungguhnya. Ia adalah deklarasi
keyakinan yang menciptakan energi
positif yang konstan, mengelilingi dan menembus kehidupan sang anak, memohon intervensi ilahi untuk
kebaikan mereka.
Menggaransi Masa Depan Gemilang
dengan Investasi Jangka
Panjang
Masa depan gemilang
tidak hanya tentang nilai akademis;
itu tentang kemampuan anak untuk menavigasi kompleksitas kehidupan, membuat pilihan
yang etis, dan menemukan makna. Doa
orang tua adalah “Garansi” dalam konteks ini karena:
Pembentukan
Karakter: Doa seringkali memohon bimbingan moral dan integritas. Nilai-nilai ini, ketika dicontohkan oleh orang
tua, diinternalisasi oleh anak. Neurosains perilaku menunjukkan bahwa
lingkungan yang kaya akan role model positif membantu dalam perkembangan sistem
nilai dan pengambilan keputusan di korteks prefrontal.
Jaring
Pengaman Spiritual yaitu Hidup penuh ketidakpastian. Doa menjadi jaring
pengaman spiritual yang memberikan rasa ketenangan dan arah saat anak
menghadapi masa-masa sulit (kegagalan, kekecewaan, kehilangan). Pengetahuan
bahwa mereka “selalu didoakan” menanamkan kepercayaan diri yang abadi,
memandu mereka menuju jalur yang mereka yakini benar.
Intinya, doa adalah meta-investasi, ia tidak hanya
memengaruhi hasil langsung (seperti nilai), tetapi memengaruhi perangkat lunak (mentalitas) dan
perangkat keras (koneksi saraf) anak yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
jangka panjang.
Meneladani Doa Nabi Ibrahim AS.
Kekuatan doa bagi keturunan ini telah dicontohkan oleh para Nabi, yang paling
terkenal adalah Nabi Ibrahim
AS. Beliau adalah teladan dalam memprioritaskan warisan spiritual bagi anak cucunya.
Bahkan setelah membangun Ka’bah, monumen tauhid yang agung,
fokus doa beliau tetap kembali kepada keturunan yang akan melanjutkan risalah. Beliau memohon
agar anak cucunya ditetapkan dalam ketaatan dan
keselamatan spiritual:
ٱلرَّحِيمُ ٱلتَّوَّابُ أَنتَ إِنَّكَ ۖ عَلَ
˚ينَا˜ وَتُ ˚ب مَنَاسِكَنَا وَأَرِنَا لَّكَ مُّ ˚سلِمَةً أُمَّةً ذُ ِ'ريَّتِنَا˜ وَمِن لَكَ مُ ˚سلِمَ ˚ينِ وَٱ ˚جعَ ˚لنَا رَبَّنَا
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau...” Surat Al- Baqarah Ayat 128
Jika dilihat
dari sudut pandang neurosains dan spiritualitas, keberhasilan seorang anak terletak pada fondasi lingkungan yang kaya akan keamanan, cinta, dan harapan.
Doa orang tua adalah
praktik spiritual paling konsisten dan kuat yang secara
efektif menciptakan lingkungan emosional tersebut.
Ini
bukanlah harapan yang naif. Doa adalah tindakan cinta paling mendasar, yang
hasilnya terefleksi dalam stabilitas emosi, ketajaman kognitif, dan kemantapan
karakter anak. Sebagaimana ajaran agama dan fitrah
kita, doa adalah
ikhtiar batiniah tertinggi. Sebagai orang tua,
kita harus menyadari: Doa kita adalah warisan non-materiil paling berharga yang
kita tinggalkan, yang secara literal memahat jalan menuju masa depan gemilang
anak.
Oleh karena itu, jadikanlah doa sebagai rutinitas primer, bukan sekadar
pelengkap. Selayaknya kita
rutin memberikan makanan bergizi untuk perkembangan fisik, berdoalah secara
teratur untuk nutrisi spiritual dan mental mereka.
Luangkan waktu khusus,
layaknya Nabi Ibrahim
AS, untuk memohon keberkahan, kecerdasan, dan perlindungan bagi anak-anak Anda. Praktik ini menegaskan
bahwa kita tidak bergantung sepenuhnya pada upaya diri sendiri, melainkan
melibatkan Kekuatan Ilahi dalam setiap detail pertumbuhan dan perkembangan
mereka.
Akhirnya, kekuatan sejati doa orang tua terletak pada konsistensi dan ketulusannya. Ketika doa diucapkan dengan hati yang penuh keyakinan, ia memancarkan energi yang menenangkan dan memberdayakan. Energi ini tidak hanya memengaruhi jiwa anak, tetapi juga menciptakan kondisi ideal bagi otak mereka untuk berkembang dan berfungsi secara optimal, memastikan bahwa setiap langkah yang mereka ambil dalam hidup adalah langkah yang dilindungi dan diarahkan menuju kesuksesan yang abadi.
AUTHOR: