Usia Ideal untuk Sekolah,Kapan Anak Benar-Benar Siap Memulai Pendidikan Formal?

Ramai dimedia sosial yang sedang berdebat tentang persoalan menyekolahkan anak pada usia yang terlalu dini. Orang tua percaya bahwa semakin
cepat anak memulai pendidikan formal, semakin siap mereka untuk hidup di masa
depan. Namun, mengingat berbagai konsekuensi negatif yang mungkin dihasilkan
oleh keputusan tersebut, perspektif ini harus dievaluasi kembali. Kemungkinan terkena gangguan psikologis seperti ADHD adalah salah satu risiko
utama menyekolahkan anak terlalu dini. Sebuah penelitian dari Harvard Medical
School menemukan bahwa anak-anak yang memulai sekolah pada usia lebih muda
memiliki kemungkinan 34% lebih besar didiagnosis dengan ADHD dibandingkan
dengan teman-teman mereka yang lebih tua. Hal ini karena emosi dan kemampuan
kontrol diri yang belum berkembang sepenuhnya pada usia dini. Selain itu, anak-anak yang disekolahkan
terlalu dini lebih rentan mengalami tekanan dan stres. Anak-anak seharusnya
masih memiliki banyak waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan dunia sekitar
pada usia di bawah enam tahun.
Anak-anak dapat merasa tertekan dan kehilangan keinginan untuk belajar jika dipaksa masuk ke dalam sistem pendidikan formal. Akibatnya, mereka dapat merasa bosan dan kehilangan minat terhadap proses belajar-mengajar. Untuk menghindari efek buruk ini, orang tua harus mempertimbangkan usia yang tepat bagi anak mereka untuk memulai pendidikan formal. Menurut beberapa ahli pendidikan, usia antara empat dan tujuh tahun adalah waktu yang paling baik untuk memulai sekolah. Anak-anak diharapkan telah mencapai tingkat kematangan emosional dan kognitif yang cukup untuk memenuhi tuntutan pendidikan formal pada rentang usia ini. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Orang tua harus melihat apakah anak mereka siap untuk sekolah pada usia 4 tahun, tetapi beberapa mungkin perlu lebih lama hingga usia 7 tahun untuk siap.
Beberapa tanda bahwa anak belum siap untuk memulai sekolah antara lain:
- Kesulitan berpisah dari orang tua: Anak yang belum siap sekolah sering menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada orang tua atau kecemasan saat berpisah.
- Kurangnya kemampuan mengontrol emosi: Jika anak mudah frustrasi, sering menangis, atau sulit mengendalikan emosi mereka saat menghadapi tantangan kecil, ini menunjukkan bahwa mereka mungkin belum cukup matang secara emosional untuk menghadapi situasi di lingkungan sekolah.
- Belum dapat memahami dan mengikuti instruksi sederhana: Anak-anak yang tidak siap sekolah mungkin menghadapi kesulitan untuk memahami dan mengikuti instruksi sederhana seperti mengambil mainan atau menyelesaikan tugas kecil.
- Tidak tertarik pada aktivitas belajar: Anak mungkin tidak tertarik pada aktivitas seperti menggambar, mendengar cerita, atau bermain permainan edukatif. Ini mungkin menunjukkan bahwa anak lebih suka bermain permainan bebas di rumah daripada belajar.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, orang tua harus menunda memasukkan anak mereka ke sekolah formal dan memberi mereka waktu lebih banyak untuk berkembang secara alami. Orang tua dapat membantu anak mereka belajar di rumah dengan bermain permainan edukatif yang menyenangkan seperti mewarnai, menggambar, atau berhitung. Tanpa memberikan tekanan yang berlebihan, kegiatan ini dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan emosional anak. Orang tua harus mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan anak, termasuk kesiapan emosional, sosial, dan kognitif. Dengan memahami kebutuhan dan kesiapan anak, orang tua dapat memberikan dukungan yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga anak dapat menjalani pendidikan dengan senang hati dan maksimal karena tanpa tekanan .
Berikut pembahasan seputar dampak menyekolahkan anak terlalu dini oleh Dr. Aisah Dahlan
Penulis : Dwi Indah Prastuti (PG-PAUD)
Editor : Dwi Indah Prastuti (PG-PAUD)