Alumni S2 PAUD UNESA Tutup Webinar Series: Inovasi PAUD Harus Nyambung dengan Praktik di Kelas
Surabaya, Ikatan Alumni S2 Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menutup rangkaian Webinar Series bertema Inovasi dan Perspektif Kontemporer dalam Pendidikan Anak Usia Dini pada akhir Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung 8–27 Juni 2026 melalui Zoom itu menghadirkan tujuh narasumber dari kalangan alumni dan praktisi.
Rangkaian ini bukan seminar sekali duduk. Peserta mengikuti beberapa sesi, masing-masing berdurasi cukup panjang hingga mendapat e-sertifikat 32 jam pelajaran per sesi. Yang datang sebagian besar guru PAUD, calon mahasiswa RPL S2 PAUD UNESA, dan pemerhati pendidikan anak usia dini.
Yang dibahas tidak jauh dari soal yang sering muncul di lembaga: bagaimana inovasi tidak berhenti di istilah baru, melainkan masuk ke cara guru merancang kegiatan, membaca kebutuhan anak, dan menghadapi tuntutan orang tua.
Muhammad Reza, S.Psi., M.Si., menyinggung sisi psikologis anak dan guru. Menurutnya, banyak inovasi gagal bukan karena idenya buruk, melainkan karena anak dan guru tidak diberi ruang aman dulu.
“Inovasi yang bikin anak dan guru tegang, itu bukan inovasi. Itu beban baru yang dikemas bagus. Anak usia dini belajar dari rasa aman. Kalau kelasnya penuh target, yang muncul justru resistensi,” kata Reza.
Andreas Teguh Nurcahyanto, S.Pd., membawa sudut pandang praktik di lapangan. Ia menekankan bahwa pendekatan kontemporer tidak selalu berarti alat mahal atau metode asing.
“Guru PAUD itu sudah inovatif setiap hari. Yang kurang seringkali bukan ide, tapi ruang untuk menata ide itu supaya tidak asal-asalan. Perspektif baru itu berguna kalau bisa dipakai Senin pagi, bukan cuma bagus di slide,” ujar Andreas.
Miftah Farid, S.Pd., Gr., yang juga tampil sebagai narasumber, melihat webinar series ini sebagai ruang temu antaralumni yang sudah menyebar di berbagai lembaga.
“Kita sering sibuk di tempat masing-masing. Padahal masalahnya mirip, orang tua minta cepat calistung, lembaga dikejar administrasi, anak tetap butuh bermain. Forum seperti ini bikin kita tidak merasa kerja sendirian,” katanya.
Dari sisi alumni perempuan yang sudah lama berkiprah di PAUD, Eny Isnariyati, M.Pd., mengingatkan agar inovasi tidak meninggalkan konteks lokal.
“Anak Indonesia punya budaya, bahasa, dan pola asuh sendiri. Jangan sampai kita pinjam istilah luar, lalu kegiatan di kelas malah jauh dari kehidupan anak. Kontemporer itu harusnya relevan, bukan sekadar baru,” kata Eny.
Imrotul Ummah, M.Pd., menambahkan soal peran guru sebagai perancang pengalaman, bukan hanya pelaksana kurikulum. “Kalau guru hanya menjalankan daftar kegiatan, inovasi berhenti di kertas. Yang mengubah kelas justru keputusan kecil guru: kapan anak boleh bergerak, kapan harus diam, kapan konsep dimasukkan.”
Lailatul Nur Asrih, M.Pd., dan Mailinda Anis Zulaiha, M.Pd., menyoroti pentingnya keberlanjutan setelah webinar selesai. Keduanya menilai peserta biasanya antusias di sesi daring, tetapi mudah kembali ke pola lama begitu masuk rutinitas lembaga.
“Yang sulit bukan memahami materinya. Yang sulit menjaga perubahan itu tetap jalan ketika yang nuntut dari luar tetap sama,” ujar Lailatul.
Mailinda menambahkan, “Kalau setelah webinar guru coba satu perubahan kecil saja misalnya memberi waktu main yang lebih utuh atau merancang kegiatan dari minat anak itu sudah hasil. Jangan nunggu lembaga berubah dulu.”
Rangkaian webinar ini menjadi salah satu jejak Ikatan Alumni S2 PAUD UNESA untuk tetap terhubung dengan almamater dan dunia praktik. Kegiatan diikuti peserta umum maupun calon mahasiswa RPL, dengan harapan jaringan alumni tidak hanya kumpul di grup, tetapi saling mengisi dari pengalaman lapangan.
Di penutup rangkaian, kesan yang mengemuka cukup seragam, PAUD tidak kekurangan ide. Yang dibutuhkan adalah cara membaca anak secara utuh, keberanian menunda target yang terlalu cepat, dan inovasi yang sanggup hidup di kelas yang ramai, terbatas, dan penuh kompromi.